Our internal creative process for filtering ideas, executing high-standard projects, and enjoying the craft.

"“The opposite of good idea is good idea” Rory Sutherland"
Ketika saya membaca buku “Alchemy: The Dark Art and Curious Science of Creating Magic in Brand, Business, and Life” saya terus mencari bagaimana kompleksitas dalam design ini bisa digambarkan jika possibilities-nya tidak terhingga, bahwa sesungguhnya nilai desain itu tidak sebatas visual dan keindahannya saja, bahwa berpikir desain itu tidak diawali dari ‘how’ tapi justru dengan ‘why’, bahwa ternyata desain adalah bukan problem solving, tapi defining problem. To say something is a solution means that something has addressed a problem completely. Lebih sulit mencari akar sebuah masalah daripada merancang solusi yang terlihat hanya di permukaan, bagai mencari jarum dalam jerami. Dalam perdebatan batin ini, saya menyadari bahwa ‘emphatize’ menjadi step pertama dalam berpikir desain bukan hanya jargon semata, tapi memang sejatinya design harus berangkat dari kekhawatiran.
"Good design comes agitated, bad design longs for escape."
Bahwa ternyata saya sering kali berhenti menggali akar masalah karena sudah puas melihat sebuah solusi sebagai jalan keluar untuk lari dari kekhawatiran, sebuah ilusi utopis yang akhirnya menenggelamkan diri pada ego dan mengurung empati untuk mencari masalah yang sebenarnya. Ketika solusi yang kita rekam tidak berangkat dari masalah yang tepat, kita berakhir menciptakan masalah baru yang lebih rumit. Karenanya perspektif saya terhadap design terus berubah, mundur jauh ke dalam realisasi diri, tidak lagi hanya menilai karya dari ilusi gambar yang eksis, realisasi bahwa dalam design tidak ada solusi yang absolute bahkan design yang paling baik sekalipun, bagus tidaknya sebuah design itu akan selalu relatif, yaitu tergantung bagaimana kita menilai akar permasalahannya.
"But if we see it as a room of possibilities; the opposite of the good idea is the good idea."

Room of possibilities ini lah yang dimaksud oleh Moholy-nagy dalam karya Kinetic Constructive System, bahwa design merupakan ruang demokratis yang di dalamnya semua orang punya caranya sendiri untuk bermain tanpa terisolasi pada satu aturan. Vision in motion is simultaneous grasp.
"Simultaneous grasp is creative performance — seeing, feeling and thinking in relationship and not as a series of isolated phenomena. It instantaneously integrates and transmutes single elements into a coherent whole. This is valid for physical vision as well as for the abstract."
Vision in motion also signifies planning, the projective dynamics of our visionary faculties. Artinya, designing adalah bagaimana cara proyeksikan ide yang kompleks dan beragam pada spektrum logic dan magic. Kita harus selalu aware bahwa dalam kompleksitas ini kita harus kesampingkan dulu ego sebagai problem solver yang seakan-akan kita lah pahlawan yang bisa menyelesaikan semua masalahnya sendiri, padahal designer seharusnya berperan sebagai agen penerjemah, yang sering kali untuk menerjemahkan masalah-masalah itu tak cukup dengan satu bahasa saja, perlu dibangun sebuah jembatan komunikasi antara masalah dan solusi yang berjalan beriringan dengan semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Untuk memetakan problem possibilities yang sangat kompleks ini, saya coba membedahnya dengan matriks Stacey yang dimodifikasi menjadi spektrum panjang antara logic & magic sebagai ruang possibilities untuk melihat konteks yang ada di dalamnya. Pada contoh kasus produk helm motor, kita bisa lihat bagaimana spektrumnya bisa sangat ekstrim, mulai dari keputusan yang paling simple dimana semua orang mungkin setuju membeli helm adalah untuk melindungi kepala. Tapi kalau konteksnya berhenti di sana kenapa tidak semua orang memakai helm yang sudah diberikan dealer saja? Dalam konteks yang lebih kompleks, orang-orang rela mengeluarkan uang seharga dengan motor yang ia beli untuk helm yang diklaim memiliki desain lebih baik, ergonomis, dan lebih aman. Atau bahkan dalam spektrum yang ekstrim lagi, orang-orang membeli helm dengan alasan yang lebih abstrak seperti helm tabung LPG, alasannya pun beragam dari yang lucu-lucuan hingga driver ojek online yang ingin menghibur penumpangnya. Tapi kalau kita pertanyakan benar salahnya apakah helm 15 juta akan lebih baik ketimbang helm tabung LPG? Belum tentu, semua konteks yang ada pada spektrum tersebut bisa valid dan tidak ada yang lebih buruk, karena sejatinya kita sebagai seorang designer tidak hanya berpihak pada konteks yang logic saja namun juga percaya akan hal-hal yang fiksi/abstrak. We’re man in the middle.

Semua possibilities itu akhirnya kita kumpulkan sebagai data informasi yang dihubungkan dengan benang merah pengetahuan dalam bentuk observasi dan riset, bahwa ternyata ini bukan perihal menilai mana yang paling bagus dan tepat guna, tapi untuk melihat semuanya berakar pada spektrum ruang yang sama dari konteks yang paling simple hingga yang paling abstrak. Mungkin orang-orang yang membeli helm tabung LPG sudah mempertimbangkan semua konteks yang bersinggungan hingga akhirnya memilih helm tersebut, namun perbedaan behavior-nya lah yang akhirnya menentukan konteks mana yang ia pilih, solusi mana yang cocok dengan masalah mereka. Ketika di sana kita malah melibatkan personal preference untuk menentukan solusi mana yang benar, solusinya tidak akan pernah valid, akhirnya kita merencanakan design tanpa melibatkan rasa empati, bentuk komunikasinya menjadi hanya satu arah, berhenti pada satu perspektif dan berusaha menjadikannya solusi paling baik. Itulah kenapa designer is a man in the middle, karena kita harus selalu paham posisi kita sebagai agen komunikasi, tugas pertama kita adalah menerjemahkan akar paling dalam dari masalah dan membawanya ke permukaan, sehingga solusi yang ditawarkan tepat sasaran.
Dengan tulisan ini saya ingin sekaligus mengajak teman-teman untuk lebih membumi, bahwa design itu harus bergerak secara inklusif dan mampu berdialog dengan empati sebagai gerbang utamanya. Dengan begitu, karya, inovasi, dan produk yang kita bentuk nantinya akan lebih jujur dan tepat guna, bahwa kunci design yang baik adalah integritas dalam menyusun solusi yang sesuai dengan intensi.
"Originality can only arise when you are connected to the intentions. It is an act of empathy."
